Pasca diberlakukannya Akta Imigresen 1154 Malaysia, sepanjang Agustus-September 2002 pemerintah Malaysia memulai penghancuran rumah-rumah buruh migran, mengusir anak-anak keturunan migran dari sekolah, dan mendeportasi hampir 400.000 jiwa penduduk tanpa dokumen ke Indonesia. Nunukan, sebuah pulau kecil di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia yang waktu itu populasinya hanya 40.000, harus menampung ratusan ribu deportan yang terlantar. Bayi-bayi dijual, orang-orang tidur di jalanan, bahkan lebih dari 70 orang meninggal dalam krisis kemanusiaan ini.
Dua dekade berlalu pasca Tragedi Nunukan. Kekejaman rezim deportasi di Sabah masih terus berlangsung. Ribuan orang setiap tahunnya ditangkap, dimasukkan ke dalam blok tahanan imigrasi yang busuk, lalu diusir ke Nunukan, Kalimantan Utara. Deportasi menjadi alat negara untuk terus mengontrol dan mendisiplinkan buruh murah. Di saat yang sama, jalannya roda ekonomi dan pembangunan semakin bergantung pada tenaga kerja dari para penduduk tidak berdokumen. Mereka terjebak dalam lingkaran deportabilitas; kemungkinan akan dideportasi sewaktu-waktu. Diskriminasi antara ‘warga tempatan’ dan ‘pendatang’, serta pelekatan stigma ilegal, PATI (Pendatang Asing Tanpa Izin), penjenayah (kriminal) kepada penduduk tanpa dokumen, menjadi alasan untuk praktik dehumanisasi melalui aparatus imigrasi bernama Pusat Tahanan Imigrasi.
Koalisi Buruh Migran Berdaulat sejak 2020 melakukan pemantauan kondisi Pusat Tahanan Imigrasi Sabah, Malaysia dan menemukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia di dalamnya; mulai dari penangkapan sewenang-wenang, kekerasan dan penghukuman harian, kekejaman terhadap perempuan dan anak-anak, hingga kematian tahanan.
Di tahun ini, kami memulai kerja-kerja pencatatan statistik deportasi melalui “TIGA TAHUN PENGUSIRAN: STATISTIK DEPORTASI SABAH-INDONESIA 2022-2024” yang dirangkum dari tiga laporan monitoring KBMB tahun 2022-2024. Angka yang tersaji dalam adalah gambaran dari wajah ribuan deportan laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Ada yang ditangkap sekeluarga bersama ayah, ibu, dan anak-anak. Sebagian lagi harus terpisah dari orang tua, pasangan, dan bayinya. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang tidak berdokumen yang lahir dan besar di Sabah tanpa pernah mengenal Indonesia sebelumnya. Mereka menyimpan kemarahan, kesedihan, keputusasaan, juga harapan untuk kembali pulang ke rumah di Sabah.
Tahun Rilis
Seperti di Neraka, terbit Juni 2022. Laporan ini berisi temuan mengenai tingginya angka kematian di dalam pusat tanahan imigrasi Sabah yang dialami oleh buruh migran asal Indonesia dan keluarganya. Setidaknya tercatat 17 orang tahanan WNI yang meninggal dunia di DTI Tawau selama menunggu proses deportasi, salah satunya adalah Aris bin Saing. Khairil dan Hasril yang masih berusia 9 dan 5 tahun, menyaksikan langsung bapaknya meninggal di dalam blok tahanan dewasa. Semua ini menunjukan betapa tragisnya peristiwa kematian yang terjadi di bawah otoritas Depot Tahanan Imigrasi di Sabah.
Mereka yang Tidak Pernah Kembali, terbit Juni 2023. Laporan ini berisi cerita menyakitkan yang dialami oleh tahanan perempuan dan anak, mulai dari perempuan hamil yang ditahan berkepanjangan, perempuan yang melahirkan dan menyusui bayinya di dalam tahanan imigrasi, perempuan yang diusir dari rumah dan dari anak-anaknya, perempuan yang meninggal tanpa keluarga disampingnya, hingga anak yang kehilangan masa kecil dan ibu mereka. Mereka menghadapi kondisi terpenjara, ketakutan depresi, dan harus menanggung trauma seumur hidupnya.
Salwa & Cahaya: Kisah Anak-anak yang Terusir, terbit Desember 2024. Laporan ini berisi kisah-kisah tahanan anak yang mengalami berbagai bentuk kekerasan harian dan penghukuman tidak manusiawi; berjemur di bawah sinar matahari yang panas, mencabut rumput yang tumbuh di depan blok tahanan, dipukul oleh penggaris besi, dipaksa berkelahi dengan anak-anak yang lain, bahkan tidak diberi makan selama satu hari penuh. Keberadaan sebuah blok kanak-kanak yang disebut Baitul Mahabbah di DTI Papar gagal menjadi alternatif penahanan. Justru, penangkapan dan deportasi terhadap anak-anak tanpa dokumen semakin meningkat.

Periode Pemantauan & Jumlah Deportasi
- Seperti di Neraka Kami melakukan pemantauan sepanjang Maret 2021-April 2022, dengan total 14 bulan. Terdapat 10 kali deportasi pada periode ini.
- Mereka yang Tidak Pernah Kembali Kami melakukan pemantauan sepanjang Maret 2022-April 2023, dengan total 14 bulan. Terdapat 8 kali deportasi pada periode ini.
- Salwa & Cahaya: Kisah Anak-anak yang Terusir Kami melakukan pemantauan sepanjang Oktober 2023-September 2024, dengan total 11 bulan. Terdapat 8 kali deportasi pada periode ini.
Jumlah Deportan
Total buruh migran dan keluarganya yang dideportasi dari Sabah, Malaysia ke Nunukan, Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada periode 2021-2022, terdapat sejumlah 2191 deportan, lalu meningkat di periode berikutnya menjadi 2347 orang, tetapi kembali menurun di angka 1941 jiwa pada periode 2023-2024. Data deportasi Desember 2023 tidak tersedia, sehingga perlu diketahui bahwa statistik ini adalah jumlah minimal, angka di lapangan lebih tinggi. Setidaknya terdapat 6479 penduduk tidak berdokumen yang dideportasi sepanjang 2021 hingga 2024.
Kategori Deportan (2021-2022)
Pada periode pemantauan 2021-2022, total deportan adalah 2191 jiwa, dengan persentase sebagai berikut: sebesar 73% di antaranya adalah laki-laki dewasa yang berjumlah 1597 orang. Kemudian disusul 18% perempuan dewasa sebanyak 399 orang. Jika digabungkan, 91% adalah deportan dewasa dengan jumlah 1996, sementara 9% adalah anak-anak usia 0-18 tahun, yakni 195 orang.
Kategori Deportan (2022-2023)
Pada periode pemantauan 2022-2023, total deportan adalah 2347 jiwa, dengan persentase sebagai berikut: sebesar 76% di antaranya adalah laki-laki dewasa yang berjumlah 1783 orang. Kemudian disusul 17% perempuan dewasa sebanyak 390 orang. Jika digabungkan, 93% adalah deportan dewasa dengan jumlah 2173, sementara 7% adalah anak-anak usia 0-18 tahun, yakni 165 orang.
Kategori Deportan (2023-2024)
Pada periode pemantauan 2023-2024, total deportan adalah 1941 jiwa, dengan persentase sebagai berikut: sebesar 65% di antaranya adalah laki-laki dewasa yang berjumlah 1269 orang. Kemudian disusul 23% perempuan dewasa sebanyak 454 orang. Jika digabungkan, 89% adalah deportan dewasa dengan jumlah 1723, sementara 11% adalah anak-anak usia 0-18 tahun, yakni 218 orang.
Jumlah Perempuan Deportan Dewasa
Dari tahun ke tahun, angka deportan perempuan sempat menurun sedikit, lalu meningkat cukup drastis. Pada periode 2021-2022, terdapat 18% deportan perempuan dengan jumlah 399 jiwa, kemudian di periode berikutnya (2022-2023) turun menjadi 17% atau 390 orang, tetapi kembali naik ke 23% dengan besaran 454 orang pada periode 2023-2024. Di antara mereka adalah perempuan hamil, perempuan menyusui, hingga perempuan dengan banyak anak.
Jumlah Deportan Anak-anak
Meskipun persentase deportan anak-anak usia 0-18 tahun lebih kecil dibanding orang dewasa, jumlahnya cukup memprihatikan dengan adanya peningkatan di tahun terakhir. Pada periode 2021-2022, terdapat 9% tahanan anak-anak atau sejumlah 195 orang, kemudian sempat turun ke angka 7% dengan jumlah 165 orang pada periode 2022-2023, tetapi meningkat tajam pada periode 2023-2024 menjadi 11% dengan total 218 jiwa.
Kategori Usia Anak Tahun 2023-2024
Dari total 218 anak, terdapat 54% yang berusia 0-13 tahun atau sejumlah 117 orang, dan 46% lainnya berusia 14-17 tahun dengan jumlah 101 anak. Anak laki-laki yang berusia 13 tahun ke atas ditempatkan di blok laki-laki dewasa, terpisah dengan ibu mereka. Sementara itu banyak pula bayi dan balita yang ditahan karena ditangkap bersama orang tua. Ada yang bahkan masih berusia 2 bulan, harus mendekam di dalam blok tahanan perempuan dewasa.
DTI Asal Tahanan Anak Tahun 2023-2024
Deportan anak sebelumnya ditampung di empat DTI Sabah, namun yang terbanyak berasal dari DTI Papar sebesar 47% atau 103 orang, disusul dari DTI Menggatal sebanyak 23% atau 50 orang, kemudian dari DTI Sandakan dengan 21% atau 45 orang, dan sisanya dari DTI Tawau sejumlah 9% atau 20 orang. Dapat dilihat bahwa nyaris setengah dari deportan anak berasal dari DTI Papar dengan besaran 47% sementara total deportan anak dari ketiga DTI lainnya sebesar 53% atau 115 orang. Hal ini krusial mengingat Baitul Mahabbah, tahanan imigrasi khusus kanak-kanak, berada di DTI Papar.
Baitul Mahabbah di DTI Papar
Kementerian Dalam Negeri (KDN) Malaysia pada September 2023 mulai memindahkan tahanan imigrasi anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun di Semenanjung ke sebuah lokasi tahanan khusus bernama Baitul Mahabbah. Pada November 2023, sebuah blok Baitul Mahabbah mulai dibangun di DTI Papar, Sabah. Dari total 108 deportan anak dari DTI Papar, jumlah anak di bawah 10 tahun sebanyak 24 orang, sementara 79 lainnya berusia 11-17 tahun. Dari total 24 orang anak yang semestinya berhak mengakses Baitul Mahabbah (BM), hanya 5 orang anak yang pernah masuk di blok BM, sedangkan 19 orang anak lainnya tidak pernah. Hal ini menunjukkan bahwa Baitul Mahabbah tidak berhasil menjadi alternatif penahanan anak-anak, malah justru menambah angka penangkapan terhadap anak-anak tanpa dokumen.
Baca selengkapnya: Deportasi Dalam Tiga Laporan

